HIDUP DI PULAU DERAWAN





Pulau Derawan siapa punya?
"Pulau ini spesial, kebanyakan orang sepakat.."
Hanya mereka yang tidak pernah melihat pulau lain yang mengatakan tidak.

"Ombaknya memancing untuk membasahi tubuh, mereka sepakat pula.."
Mereka yang lain berkata bisa menggigil dan kelaparan.

"Tarian penyu diatas terumbu sungguh layak untuk ditunggu, saya rela mati untuk itu.."
Bapak yang diatas sana, itu menganggu sungguh mengganggu pencaharianku.
Hilir mudik mencari-cari.
Apa yang dia lakukan, menyingkirlah dari sana. Merusak pemandangan gerutunya dalam hati.

Asik mereka berfoto-foto, sangat bahagia melihat pulau ini. Liburan mereka beberapa tahun ini berbeda. Hari-hari berat di depan meja terbayar lunas saat menginjak lembut pasir putih tanpa alas kaki. Pasir dan air kombinasi sempurna seperti yang kami dengar dalam berita-berita. Disini hidup menderita tidak bisa diterima, karena sepuluh rasa jenuh yang muncul akan disapu satu ombak saja untuk mengembalikan bahagia. Widya tidak habis pikir pada dirinya sendiri kenapa tidak dari dulu ia sempatkan kesini. 

Terik mataharinya berkolaborasi dengan hawa sejuk dari hutan rimbun ditengah pulau. Widya mengalah pada dahaganya. Sejenak mencari-cari apa yang bisa melepas rasa haus. Pandangannya tertuju pada lapak kelapa muda disebelah barat pantai. Es kelapa muda dan kursi santai tidak bisa di tolak siapapun, termasuk widya apalagi pada saat rasa haus menghampirinya. 

Selang beberapa lama, ia mulai menikmati kesegaran air kelapa. Meluruskan kaki menatap kearah laut, menikmati musik hingga tanpa ia sadari matahari mulai terbenam. 

Satu persatu kapal nelayan melabuh, merapat. 
Tampak muka lelah mereka menatap Widya. Suasana ini yang tidak bisa ia terima.
Dari tengah hari ia terharu karena keindahan pantai, kenapa muka mereka tidak menunjukkan hal yang sama. Tamat.


Teluk Betung, Lampung. Postingan ini mengingat saya untuk tidak lupa akan nilai kemanusiaan. Sisi yang berbeda membuat kita merasakan hal yang berbeda.

LUPA CERITA DOSA

Lihat lah ia dari potongan rambutnya
Lebih kurang sama
Mulai terasa berbeda bila ia berkata
"rasanya lebih gigih saya dari pada dia,
kenapa ya sekarang kehidupan kami berbeda"..

Tak cukup dengan sekedar berbicara
Kita perlukan pendalaman cerita
Pasti ada yang terlupa
Entah cara berbelanja entah cara membanting selera..

Cicip-mencicip berbagai rasa
Masa itu dia lebih gelap mata
Tak pandang bulu, semua ya semua
Dalam kepala setan atau malaikat tak ada..

Pegangan jatuh karena jenuh semata
Mulai bosan ia pula
Tidak tertantang lagi diatas dunia, sungguh gila
Akhir dari masa, ia tahu kembali jua..

Tarik menarik kopi hingga lupa "jam berapa?"
Ternyata dosa yang belum tercerna oleh pahala
Disitulah akhir dari malam buta.

Kita tutup telinga, teruskan hanya sekedar berbicara..


-------------------------------

Kab. Berau : Semua ada masanya, jaya tidak selamanya.


LAGA SI PERINDU

Waktu memaksa untuk dewasa si perindu, tungkainya bertambah panjang setiap mau petang. Di lingkungan ini, ia bukan ternama. Tapi namanya cukup untuk untuk orang percaya. Siang bagai romansa buta, hanya malam yang kian membuat ia merasa. 

Bagaimana tidak, sudah dua masing-masing temannya punya keluarga. Bagi si Perindu keluarga hanya Alm. Ayah, Alm. Ibu. Masih tersisa 2 kakak beradik lain pun tersebar dari Aceh hingga Malang. Layaknya petualang mereka asik berkeliling hingga lupa bertanya kabar saling menyapa. Kesepian sudah si Perindu di dunia.

Suatu hari asyiklah ia berselancar dunia "maya", tanpa ia sadari menemukan dunia yang penuh cerita bahagia. Sebagai manusia ia juga ingin mencoba untuk "bahagia" layaknya orang-orang. Dari petang, tidak berhenti ia berjalan hingga malam pun tiba. Maka mulai lah nyaman dengan dunianya. 

Tidak banyak yang dilakukan, hanya mencari tahu bagaimana rasanya bahagia. Pencarian nya menambah rasa penasaran, satu pertanyaan timbul setelah menemukan satu jawaban. Rasa bahagia itu pelan-pelan memaksanya. Kian lupa waktu, si perindu kini semakin jauh berjalan, hingga subuh pun masih petantang-petenteng karena tidak ada jua keluarga mencari. 

Larut tubuhmu dalam bahagia, dunia maya.
Lebur hati menjaga romansa.
Tidak harus mencoba, sebenarnya..
Apa daya, sudah jauh dari keluarga pula..



-------------------------------

Kep. Natuna : Reminder untuk tidak terjebak dalam suatu kesenangan yang bersifat sementara.

BIAS GELAS KOPI

Kesana kemari menuntut ilmu Pakaian serba baru Tampak di lensa aplikasi biru Kian enggan rupanya menurunkan dagu

"Sepeti yang saya alami" begitu awal ceritamu
Meliak liuk melesat bagai peluru
Masih hari pertama ku jamu
Apa sudah lupa denganku?
Di tepi laut dan bersiteru
Pongah liar seraya merasa seru
Untuk apa semua itu?
Harga pangan yang tak naik buru-buru
Melempar pancing dan berlalu
Memasang bubu untuk ditunggu
Pilihan untuk saling mengguru
Berhenti sejenak untuk memesan gelas baru
Belum juga habis gelas yang satu
Tak sabar, buru-buru
Indah romansa masa lalu
Hebat.. baru hanya tamat 2 buku
Terniat rasanya si kakak membagi ilmu
"Garam itu rasanya asin" dari meja sebelah terdengar si paman memberitahu
Kami perlahan malu
Menurunkan muka hingga menatap lantai batu
Paman menghentikan rentetan kalimat yang berlalu
Bahkan gelas baru, tak dapat menyentuh lidah kaku
Dari belakang, samping depan aku mencari-cari pintu
Tak tahan malu, berupaya membantu si pembantu
Kembali lusa ataupun hari sabtu
Meski 20 buku lepas liar sejak hari minggu
Jika untuk datang menawar ilmu
Jangan seperti gelas baru


-------------------------------
Kep. Natuna : Postingan ini sebagai reminder untuk diri saya bahwa tidak boleh sombong dan merasa paling tahu.

Munafik


Jangan percaya kepada Yudas-yudas, bunglon-bunglon. Di zaman kita ini lebih mudaj kehilangan kepercayaan daripada sarung tangan tua, dan saya sudah kehilangan kepercayaan itu!
Malam. Saya naik trem kuda. Sebagai pejabat tinggi, tidak sepatutnya saya naik trem kuda. Tetapi kali itu saya mengenakan mantel bulu besar dan saya dapat menyembunyikan diri di balik kerah mantel dari bulu marten itu. Dan lagi, naik trem kuda lebih mahal, bukan?
Waktu itu sudah larut dan dingin tetapi gerbong trem penuh sesak. Tidak seorangpun mengenali saya. Kerah bulu marten itu membuat saya incognito. Begitulah saya berpergian, mengantuk dan melihat-lihat orang disekitar.
“Ah bukan, itu bukan dia!” pikir saya, waktu terlihat oleh saya seorang lelaki bertubuh kecil, mengenakan mantel dari bulu kelinci, “itu bukan dia!, Bukan, bukan dia!, ah, dia!”.
Saya berpikir dan saya percaya sekaligus tidak percaya kepada diri saya sendiri.
Orang yang mengenakan mantel bulu kelinci itu mirip sekali dengan Ivan Kopitonich, seorang di antara pegawai kantor saya. Ivan Kopitonich adalah makhluk kecil yang murung dan berhidung pesek, yang hidupnya hanya untuk memungut sapu tangan yang terjatuh dan tidak mengucapkan selamat hari raya. Ia masih muda, tetapi punggungnya bongkok seperti busur, lututnya bengkok, tangannya kotor dan terlekat pada tepi bajunya. Mukanya seperti terhimpit pintu atau terhantam gombal basah. Muka itu asam mengibakan. Melihatnya orang jadi hendak menyanyika lagu “Oskolki” (Serpihan), lalu merintih. Jika melihat saya, ia gemetar, pucat dan merah-padam, seolah saya ingin menelan atau menyemblihnya, sedangkan kalau saya marahi, ia menggigil dan seluruh anggota tubuhnya menggetar.
Tidak ada orang yang lebih hina, lebih pendiam dan lebih berharga dari pada dia. Bahkan saya tidak mengenal binatang yang lebih cinta damai daripada dia.
Lelaki kecil bermantel bulu kelinci itu betul-betul mengingatkan saya kepada Ivan Kopitonich, betul-betul dia!. Cuma,lelaki kecil itu tidak sebongkok Ivan Kopitonichm tidak begitu murung, gayanya bebas dan yang paling menjengkelkan, ia bicara politik dengan orang didekatnya. Seluruh gerbong mendengarkannya.
“Gembeta mati!” katanya sambil memutar badan dan mengayunkan tangannya. “Ini menguntungkan Bismarck. Gambetta memang punya otak sendiri. Ia berperang melawan orang Jerman dan punya andil. Ivan Matvich! Ia memang orang jenius! Ia orang Prancis, tetapi jiwanya Rusia. Orang berbakat”.
“Gombal kamu!”
Ketika kondektur mendatanginya dengan membawa karcis, pembicaraannya tentang Bismarck itu dihentikannya.
“Kenapa gerbong ini begitu gelap?” kecamnya kepada kondektur. “Apakah tidak ada lilin?” Betul-betul tak ada ketertiban. Siapa yang mesti mengajar kalian? Kalau diluar negeri, sudah kena kalian!.   

Anton Chekhov - Pengakuan

Pengakuan berisikan tentang pikiran chekov dalam ketidaknyamanan dirinya terhadap prilaku korupsi yang ada di Rusia pada akhir abad ke-19 masa-masa dimana chekov menulis adalah puncak kemunafikan semua orang yang ada di sekelilingnya.

-------------------------------------
Kemunafikan, kecenderungan untuk memanipulasi orang lain, serta praktik penjilatan dan korupsi, adalah sebagian tema cerita pendek Anton Chekov. Ditulis dengan gaya satire yang begitu memikat, cerita-cerita itu menggambarkan keadaan masyarakat Rusia yang sedang membusuk menjelang Abad XX

“Apa yang saya inginkan hanyalah berkata kepada masyarakat dengan jujur : ‘Pandanglah diri kalian dan lihatlah betapa busuk dan muramnya kalian. Hal yang penting adalah masyarakat perlu menyadari bahwa mereka.. Tidak boleh tidak harus menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berbeda... Sepanjang kehidupan itu belum terwujud, saya tidak akan jemu-jemu berkata kepada masyarakat ; Please, mengertilah bahwa kehidupan kalian busuk dan muram,” demikian komentar Chekov, Raja Cerpen Rusia. Dikutip dari Sinopsis “Pengakuan”
-------------------------------------

Bagi saya yang seorang pengamat prilaku pergaulan dan hal kecil tidak penting, cerita pendek pada halaman pertama novel ini sudah mengajak saya menjauh dari kerumunan. Hanyut.
Penyembunyian makna tersirat dibalik kata kunci cerita menyita hati saya. Satire yang lincah, sungguh pikir saya. Saya harus tahu lebih jauh tentang Ivan Kapitonich yang hadir dalam cerita pertama. Pada ujung cerita, saya harus mengakui buku ini telah menimbulkan niat saya.
    

PRA-TEST POSTINGAN

Bagaimana blog ini akan digarap?

Menulis adalah salah satu cara berkeluh kesah terhadap apa yang terjadi disekitar kita. Lingkungan sosial, politik, ekonomi dan budaya serta hal apapun yang menimbulkan rasa gerah terhadapmu butuh suatu sarana untuk diluapkan. Kala semua orang memiliki topik mereka masing-masing, bukan tertutup kemungkinan bagimu menemukan teman ngobrol yang kurang memuaskan. Percakapan dengan segala batasannya menjadikan keresahan cenderung tidak tumpah seutuhnya. 


Bagaimana dengan tulisan yang lalu?

Butuh waktu untuk mengevaluasi beberapa topik yang pernah di hadirkan pada blog ini, sehingga blog ini kembali di restart, untuk kemudian diisi dengan tulisan-tulisan yang lebih mendalam.


Konsisten menulis?

Menulis bagi saya untuk mengisi waktu luang. Selagi memiliki waktu untuk menyendiri dan menemukan laptop, postingan blog akan semakin bertambah.