Waktu memaksa untuk dewasa si perindu, tungkainya bertambah panjang setiap mau petang. Di lingkungan ini, ia bukan ternama. Tapi namanya cukup untuk untuk orang percaya. Siang bagai romansa buta, hanya malam yang kian membuat ia merasa.
Bagaimana tidak, sudah dua masing-masing temannya punya keluarga. Bagi si Perindu keluarga hanya Alm. Ayah, Alm. Ibu. Masih tersisa 2 kakak beradik lain pun tersebar dari Aceh hingga Malang. Layaknya petualang mereka asik berkeliling hingga lupa bertanya kabar saling menyapa. Kesepian sudah si Perindu di dunia.
Suatu hari asyiklah ia berselancar dunia "maya", tanpa ia sadari menemukan dunia yang penuh cerita bahagia. Sebagai manusia ia juga ingin mencoba untuk "bahagia" layaknya orang-orang. Dari petang, tidak berhenti ia berjalan hingga malam pun tiba. Maka mulai lah nyaman dengan dunianya.
Tidak banyak yang dilakukan, hanya mencari tahu bagaimana rasanya bahagia. Pencarian nya menambah rasa penasaran, satu pertanyaan timbul setelah menemukan satu jawaban. Rasa bahagia itu pelan-pelan memaksanya. Kian lupa waktu, si perindu kini semakin jauh berjalan, hingga subuh pun masih petantang-petenteng karena tidak ada jua keluarga mencari.
Larut tubuhmu dalam bahagia, dunia maya.
Lebur hati menjaga romansa.
Tidak harus mencoba, sebenarnya..
Apa daya, sudah jauh dari keluarga pula..
-------------------------------
Kep. Natuna : Reminder untuk tidak terjebak dalam suatu kesenangan yang bersifat sementara.