LUPA CERITA DOSA

Lihat lah ia dari potongan rambutnya
Lebih kurang sama
Mulai terasa berbeda bila ia berkata
"rasanya lebih gigih saya dari pada dia,
kenapa ya sekarang kehidupan kami berbeda"..

Tak cukup dengan sekedar berbicara
Kita perlukan pendalaman cerita
Pasti ada yang terlupa
Entah cara berbelanja entah cara membanting selera..

Cicip-mencicip berbagai rasa
Masa itu dia lebih gelap mata
Tak pandang bulu, semua ya semua
Dalam kepala setan atau malaikat tak ada..

Pegangan jatuh karena jenuh semata
Mulai bosan ia pula
Tidak tertantang lagi diatas dunia, sungguh gila
Akhir dari masa, ia tahu kembali jua..

Tarik menarik kopi hingga lupa "jam berapa?"
Ternyata dosa yang belum tercerna oleh pahala
Disitulah akhir dari malam buta.

Kita tutup telinga, teruskan hanya sekedar berbicara..


-------------------------------

Kab. Berau : Semua ada masanya, jaya tidak selamanya.


LAGA SI PERINDU

Waktu memaksa untuk dewasa si perindu, tungkainya bertambah panjang setiap mau petang. Di lingkungan ini, ia bukan ternama. Tapi namanya cukup untuk untuk orang percaya. Siang bagai romansa buta, hanya malam yang kian membuat ia merasa. 

Bagaimana tidak, sudah dua masing-masing temannya punya keluarga. Bagi si Perindu keluarga hanya Alm. Ayah, Alm. Ibu. Masih tersisa 2 kakak beradik lain pun tersebar dari Aceh hingga Malang. Layaknya petualang mereka asik berkeliling hingga lupa bertanya kabar saling menyapa. Kesepian sudah si Perindu di dunia.

Suatu hari asyiklah ia berselancar dunia "maya", tanpa ia sadari menemukan dunia yang penuh cerita bahagia. Sebagai manusia ia juga ingin mencoba untuk "bahagia" layaknya orang-orang. Dari petang, tidak berhenti ia berjalan hingga malam pun tiba. Maka mulai lah nyaman dengan dunianya. 

Tidak banyak yang dilakukan, hanya mencari tahu bagaimana rasanya bahagia. Pencarian nya menambah rasa penasaran, satu pertanyaan timbul setelah menemukan satu jawaban. Rasa bahagia itu pelan-pelan memaksanya. Kian lupa waktu, si perindu kini semakin jauh berjalan, hingga subuh pun masih petantang-petenteng karena tidak ada jua keluarga mencari. 

Larut tubuhmu dalam bahagia, dunia maya.
Lebur hati menjaga romansa.
Tidak harus mencoba, sebenarnya..
Apa daya, sudah jauh dari keluarga pula..



-------------------------------

Kep. Natuna : Reminder untuk tidak terjebak dalam suatu kesenangan yang bersifat sementara.

BIAS GELAS KOPI

Kesana kemari menuntut ilmu Pakaian serba baru Tampak di lensa aplikasi biru Kian enggan rupanya menurunkan dagu

"Sepeti yang saya alami" begitu awal ceritamu
Meliak liuk melesat bagai peluru
Masih hari pertama ku jamu
Apa sudah lupa denganku?
Di tepi laut dan bersiteru
Pongah liar seraya merasa seru
Untuk apa semua itu?
Harga pangan yang tak naik buru-buru
Melempar pancing dan berlalu
Memasang bubu untuk ditunggu
Pilihan untuk saling mengguru
Berhenti sejenak untuk memesan gelas baru
Belum juga habis gelas yang satu
Tak sabar, buru-buru
Indah romansa masa lalu
Hebat.. baru hanya tamat 2 buku
Terniat rasanya si kakak membagi ilmu
"Garam itu rasanya asin" dari meja sebelah terdengar si paman memberitahu
Kami perlahan malu
Menurunkan muka hingga menatap lantai batu
Paman menghentikan rentetan kalimat yang berlalu
Bahkan gelas baru, tak dapat menyentuh lidah kaku
Dari belakang, samping depan aku mencari-cari pintu
Tak tahan malu, berupaya membantu si pembantu
Kembali lusa ataupun hari sabtu
Meski 20 buku lepas liar sejak hari minggu
Jika untuk datang menawar ilmu
Jangan seperti gelas baru


-------------------------------
Kep. Natuna : Postingan ini sebagai reminder untuk diri saya bahwa tidak boleh sombong dan merasa paling tahu.